Langsung ke konten utama
loading

JANGAN KEARAB-ARABAN!!!

Dalam 5 tahun terakhir ini saya sering mendengar dan membaca dalam tulisan tentang masalah ke-arab-araban ini. Kebetulan nemu tulisan percakapan di twitter dan menggelitik untuk ikut menulis tentang masalah ini. Percakapannya nanti akan dilampirkan juga karena lucu ;)) juga isinya dan kadang membuat kita yang selama ini mungkin tidak sadar bahwa kita berbicara dalam bahasa arab yang telah diserap ke bahasa kita menjadi sadar dan tahu betapa banyak sekali bahasa kita ternyata diserap dari bahasa arab. kearab-araban

Tanpa menggunakan kata-kata serapan yang berasal dari bahasa arab tersebut, saya jamin siapapun akan kesulitan :| berbicara, karena ada kata-kata yang tak memiliki sinonim sama sekali dalam bahasa asli atau serapan dari bahasa daerah atau bahasa asing lainnya.

Baiklah sekarang kita simak dulu percakapan / dialog yang saya dapatkan di twitter tersebut, berikut ini percakapannya.

A:“Bro, aku heran sama orang-orang yang kearab-araban!!! Ngapain sih, pakai ngomong akhi, ukhti, ana, antum ??!! Islam ya Islam saja, gak usah bawa-bawa budaya Arab!!!”
B.:“Ya, gak papa. Toh ya gak nabrak syari’at. Gak ngelanggar hukum negara. Gak ada yang dirugikan.”
A:“Risih aja lihatnya !!!”
B::) :) :) (senyum)
A:“Bro, Si Boim itu sekarang tajir loh. Usaha jual ikan laut laris manis.”
B:“Jangan bilang TAJIR. Itu budaya bahasa Arab. Bilang aja sugih.”
A:“Eh, iya. Maksudnya kaya raya. Aku ketemu dia hari Selasa lalu.”
B:“Jangan bilang SELASA. Itu budaya dari Arab juga. Asal katanya Tsulatsa’u, artinya Hari ketiga.”
A:~x( ~x( ~x( (garuk-garuk kepala). “Iya iya... Tuesday Tuesday Udah, ah. Aku mau istirahat dulu, capek.”
B:“Jangan bilang ISTIRAHAT, itu juga berasal dari budaya bahasa Arab, Istaroha - Yastarihu - Istirohat. Artinya santai, rileks.”
A:“Tau, ah. Sudah gak usah bahas-bahas itu lagi. Buat mati gaya aja.”
B:“Jangan bilang MATI. Itu bahasa Arab juga. Dari kata Maata - Yamuutu - Maut, artinya, lawan dari hidup. Bilang aja mampus, modar, tewas, atau sekarat. Eh, jangan SEKARAT ding, itu juga kata dari Arab soalnya.”
A:“Ehhhh.. sudah, maklumi saja. Gitu aja kok repot!!!”
B:“Hmm... maklum itu dari bahasa Arab lho, artinya sesuatu yang sudah diketahui.”
A:“Aaaahhhh... ini negara hukum. Aku punya hak asasi yang dilindungi pengadilan.”
B:“Tanpa kamu sadari, kata-kata HUKUM, HAK, ASASI dan ADIL itu juga dari bahasa Arab.”
A:x( x( x( (pergi tanpa pamit)
by Abu Musa Al-Asy’ari

Dialog diatas itu memberikan contoh beberapa kata arab yang diserap ke bahasa Indonesia, mau tahu lebih banyak? silahkan lihat di wikipedia ini. Saya jamin kamu tidak akan sabar membaca seluruhnya saking banyaknya, saya juga tidak sabar. :)) Konon itu masih tidak semua, dan saya tidak perduli berapa banyak karena yang penting bisa kita gunakan dalam berbicara atau menulis.

Sejak lama, khususnya di Melayu (termasuk Indonesia) memang budaya arab sudah berbaur jadi apa anehnya ketika banyak bahasa serapan dari bahasa arab? Lalu mengenai orang yang berbicara menggunakan banyak istilah arab seperti contoh diatas, itu juga sudah lama ada di komunitas tertentu juga tidak aneh.

Kalau sekarang dipermasalahkan sudah telat sekali. Dan ini hanya mengindikasikan ada pemecah belah yang sedang melempar umpan. Hanya orang bodoh yang akan memakan umpannya.

Selain itu, biasanya istilah akhi, ukhti, ana, antum itu juga mereka gunakan di komunitas mereka sendiri, saat berbicara pada masyarakat umum mereka akan menggunakan istilah umum. Saya dulu banyak berinteraksi dengan mahasiswa IMM yang sering menggunakan istilah akhi dan ukhti di kalangannya, tapi pas bicara ke mahasiswa lain ya biasa lagi pakai aku, kamu, saudara dll.

Dalam sebuah keluarga juga sering terjadi begitu, dari keluarga ibu saya, biasa kalau ada yang panggil ayah dengan aba, abi, memanggil ibu dengan ummi, sebutan paman dengan hali, bibi halati, dan lain sebagainya. Di keluarga lain menggunakan Papa, Papi, Mama, Mami, Om, Tante, biasa saja dan maklum dengan pilihan masing-masing.

Di kalangan santri pesantren, mereka itu belajar bahasa arab untuk mendalami Al-Quran, dan untuk membiasakan bahasa arab wajar saja kalau bahasanya dipakai dalam kehidupan sehari-hari, sama dengan ketika di kumpulan siswa pada lembaga pendidikan tertentu menggunakan bahasa inggris dalam percakapan sehari-hari dengan tujuan membiasakan diri agar mudah dalam conversation. Jadi ini sudah lama ada dan tidak aneh.

Yang aneh itu ketika sekarang muncul sesuatu yang sudah biasa gitu dijadikan seolah-olah aneh. Orang cerdas akan berpikir, apa tujuan dan targetnya? yang jelas tidak akan baik, sebab sesuatu yang sudah tidak bermasalah menjadi bermasalah. Jadi abaikan saja, karena saat capek sendiri akan berhenti juga.

Sayangnya ternyata banyak yang merespon dan melayani masalah ke-arab-araban ini, ya jadinya menjadi masalah, yang senang ya pihak yang melempar umpan akhirnya. Dan mereka jadi tidak capek karena tujuannya tercapai.

Kalau sudah mentok, dan memang benci ke-arab-araban, suruh saja tidak menggunakan kata-kata serapan bahasa Arab di bahasa Indonesia. :)) Biar pusing dan kesulitan sendiri. Sebab ternyata akhi, ukhti, ana, antum itu memang istilah yang “tidak diserap” ke bahasa Indonesia dan hanya setitik debu dibanding jumlah yang diserap (lihat di wikipedia tadi).

Saya sendiri tidak familiar dengan istilah akhi, ukhti, ana, antum, ini, saat ada yang menggunakan ke saya, saya akan dengan sopan meminta lawan bicara untuk menggunakan bahasa Indonesia saja, bukan karena apa, tapi otak saya jadi harus ada yang disisihkan beberapa bagian untuk sekedar menterjemahkan dan ini membuat daya tangkap dalam berbicara menjadi lemot. Tapi jika istilah tadi digunakan oleh orang-orang di komunitasnya dan mereka terbiasa dan enjoy, ya tidak ada masalah, tidak perlu kita nyinyirin mereka dan komunitasnya.

Saya dengan sopan meminta lawan bicara untuk menggunakan bahasa Indonesia ini sebenarnya dengan sedikit malu, sebab ketahuan bahwa saya tidak familiar dengan bahasa Arab yang adalah bahasa Kitab Suci saya, nah... \:d/ ketahuan saya gak ngerti kitab suci yang saya junjung sendiri. :( Padahal orang lain menggunakannya ke saya sebenarnya menganggap saya sama dengannya. Eh, ternyata saya-nya gak gablek bahasa Arab. 8-} Tapi saya memilih jujur daripada makin malu bicara plegak-pleguk.

kearab-araban
Ilustrasi Kondangan

Akhir kata, sebaiknya kita seperti dulu lagi, kita kondangan juga tidak terlepas dari kata-kata bahasa serapan dari bahasa Arab, naskah pidato sambutan acara juga, jadi tidak usah lebai dengan anti arab, yang biasa pakai istilah akhi, ukhti, ana, antum juga jangan lebai digunakan ke semua orang tanpa pandang komunitas agar lebih minimal dampak fitnah di masyarakat dari sesuatu yang tidak perlu ada. Semua orang punya kesukaan dan pilihannya sendiri, kita hargai itu, masa sih kita akan memukuli orang karena dia suka tempe bacem dan tidak suka soto seperti kita?

Komentar 29  Recent Comments