Langsung ke konten utama
loading

Kalender Hijriyah dan Kalender Jawa

Kalender Hijriyah dan Kalender Jawa keduanya menggunakan peredaran bulan sebagai dasar perhitungannya, (*) dan tentu saja 99% sama intinya hanya nama-nama bulannya saja yang berbeda. Lalu apa hubungan kedua kalender ini? bahasan dibawah akan mengulasnya agar jelas dari sisi asal-usul perhitungannya. Kalender Hijriyah

Kalender Jawa
Contoh Kalender Jawa

Kalau saat ini (jaman kita hidup sekarang ini) kita bicara penanggalan jawa sebenarnya sama saja dengan menyebutkan penanggalan hijriyah. Dulu mungkin berbeda tapi tetap mirip. Beda disini adalah dulu sebelum 1625 Masehi (bertepatan dengan tahun 1547 Saka). Tapi sejak Sultan Agung mengubah sistem Kalender Jawa dengan mengadopsi Sistem Kalender Hijriyah, seperti nama-nama hari dan bulan dengan berbasis lunar (komariyah), maka kalender hijriyah dan kalender jawa menjadi sama, hanya tahunnya saja berbeda karena angka tahun Saka tetap diteruskan demi kesinambungan, yaitu 1547 Saka ke 1547 Jawa.

Jadi tahunnya berbeda, tapi isi kalendernya sama. Sebenarnya tidak sama persis, karena kalau Kalender Hijriah murni menggunakan moon visibility (visibilitas bulan) pada penentuan awal bulan di tiap bulannya, penanggalan Jawa telah menetapkan jumlah hari dalam setiap bulannya. Namun ini hanya menyebabkan perbedaan 1 hari pada pada bulan-bulan tertentu dan nantinya akan sama lagi, sebab jumlahnya berkisar antara 29 dan 30 tiap bulan hanya beda jumlah di bulan-bulan tertentu.

Rukyat Hilal
Kegiatan Rukyatul Hilal

Di kalender hijriyah ada istilah rukyat, melihat hilal dan lain-lain, di kalender jawa tidak ada, namun ternyata pada prakteknya sejak lama, kalender yang kita beli yang ada penanggalan hijriahnya kadang ada juga kalender jawanya, tanggalnya sering sama saja walau ada juga yang beda (ini bikin kita :-/ bingung kan?), namun pada prakteknya penanggalan jawa akhirnya mengikuti penanggalan hijriyah, hanya tahun Saka saja beda dengan tahun hijriyah.

Kalender hijriyah yang kita beli seringkali tidak cocok dengan prakteknya, karena kegiatan rukyat hilal tiap bulan, ini akan kita alami kalau kita punya aplikasi android yang merujuk pada kalender hijriyah semisal berdasar negara kuwait, jumlah hari tidak akan bisa seperti tabel teori dibawah (yang jumlah hari selang-seling antara 29 dan 30), sebab penentuan awal bulan tiap bulan akan mengikuti kegiatan rukyatul hilal bulanan.

Siklus Bulan

Kalender Hijriah
Contoh Kalender Hijriyah

Kalender hijriah dibangun berdasarkan rata-rata siklus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari). Jadi 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek 10 sampai 12 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.

Perhatikan yang tebal diatas, ada koma dalam jumlah hari-nya oleh sebab itu selalu ada kabisat untuk tahun-tahun tertentu, dan karena hal ini akhirnya penanggalan jawa akhirnya mengikuti penanggalan hijriyah karena kalau tidak dan hanya terpancang pada jumlah hari 29 dan 30 tiap bulannya, maka akan membuat kalender tidak akurat lagi dengan peredaran bulan.

Bulan-Bulan Kalender Hijriyah

Berikut ini tabel nama-nama bulan dalam kalender hijriyah:

NoBulan IslamArabLama Hari
1Muharamالمحرم30
2Safarصفر29
3Rabiul awalربيع الأول30
4Rabiul akhir / Rabi'uts tsanyربيع الثاني29
5Jumadil awalجمادي الأولي30
6Jumadil akhir / Jumadits tsanyجمادي الأخرة29
7Rajabرجب29
8Syakbanشعبان30
9Ramadanرمضان30
10Syawalشوال29
11Zulkaidahذو القعدة30
12Zulhijahذو الحجة29 / (30)
Total354 / (355)

Bulan-Bulan Kalender Jawa

Berikut ini tabel nama bulan-bulan dalam kalender jawa:

NoPenanggalan JawaLama Hari
1Sura30
2Sapar29
3Mulud atau Rabingulawal30
4Bakda Mulud atau Rabingulakir29
5Jumadilawal30
6Jumadilakir29
7Rejeb30
8Ruwah (Arwah, Saban)29
9Pasa (Puwasa, Siyam, Ramelan)30
10Sawal29
11Séla (Dulkangidah, Apit) *30
12Besar (Dulkahijjah)29 / 30
Total354 / 355

Jumlah Hari Dalam Setahun

Dari tabel diatas sebenarnya sudah jelas, baik di kalender hijriyah maupun kalender jawa, dalam setahun ada 354 dan 355 hari, namun kabisat 355 hari itu pasti lebih sedikit jumlahnya dibanding tahun yang berjumlah 354 hari, sehingga bisa dikatakan bahwa satu tahun dalam kalender hijriyah dan jawa berjumlah 354 hari.

Ini juga sama dengan kalender masehi, kita akan menyebut setahun adalah 365 hari, padahal ada tahun kabisat dimana jumlahnya 366 hari.

Kabisat Kalender Hijriyah dan Kalender Jawa

Kabisat untuk kalender hijriyah tidak seperti pada kalender masehi yang 4 tahun sekali, namun dilakukan pada siklus 30 tahun.

Menurut perhitungan, dalam satu siklus (masa putaran waktu) 30 tahun Kalender hijriah, terdapat 11 tahun kabisat dengan jumlah hari sebanyak 355 hari, dan 19 tahun dengan jumlah hari sebanyak 354 hari. Dalam jangka panjang, satu siklus ini cukup akurat hingga satu hari dalam sekitar 2500 tahun. Sedangkan dalam jangka pendek, siklus ini memiliki deviasi 1-2 hari.

Kesimpulan

Jadi pada dasarnya untuk masa ini, kalender jawa dan kalender hijriyah sama saja, hanya beda tahun saja karena kalender hijriyah menentukan awal tahun dari tahun hijrah Kanjeng Nabi (Muhammad) SAW ke Madinah, sedangkan kalender jawa melanjutkan tahun Saka.

Permasalahan

Kadangkala kalau kita membeli kalender bisa ada perbedaan antara kalender 1 dan yang satunya lagi, ini bisa karena perbedaan produsen yang mencetak kalender berbeda, yang satu update dari keputusan rukyat, satunya lagi belum atau ikut metode hisab, dan permasalahan ini sudah dari dulu sebagaimana hari raya Idul Fitri sering tidak berbarengan, jadi untuk memeriksa mana yang benar ya terpaksa kita cocokkan dengan keputusan rukyat atau hisab, mana yang kita pilih.

Seringkali perbedaan tanggal ini juga tidak seluruh tahun, tapi pada bulan tertentu saja, yang sering pada bulan Ramadan sampai dengan Zulhijah, karena di Indonesia pada 2 bulan itu rukyat dilakukan untuk menentukan awal puasa, hari raya, dan haji.

Kaitannya dengan Pondok Jeruk

Ada 2 masalah saya membahas ini, yang pertama karena saya benar-benar sedang membaca lagi tentang kalender ini karena kebutuhan jadwal bayar SPP pondok pesantren yang menggunakan kalender hijriyah dimana saya ikut pusing karena tidak terbiasa.

Yang kedua adalah pertanyaan dan protes dari pengunjung berkaitan dengan aplikasi menghitung selamatan meninggal yang berkaitan dengan pendak 1 dan pendak 2 dimana mungkin hasil perhitungannya tidak sama dengan tanggal geblak (meninggal) dalam tanggal hijriyah / jawa.

Jika Anda membaca dari atas, maka Anda akan maklum bahwa aplikasi hanya menghitung pendak dengan acuan setahun 354 hari, sehingga 2 tahun (pendak 2) adalah 354 x 2 = 708 hari. Aplikasi tidak mungkin tahu hasil rukyat pemerintah, ormas, atau hisab Muhammadiyah, jadi terpaksa acuannya jumlah standar hari dalam 1 tahun. Jadi untuk pendak, kalau hasil perhitungan aplikasi tidak cocok menurut Anda, sebaiknya cocokkan saja dengan hasil rukyat atau hisab yang Anda pilih atau lebih mudahnya masalah pendak ini, gunakan kalender terkini yang sudah Anda anggap cocok, asal sama dengan tanggal geblak ya itu ulang tahun kematiannya.


Sumber referensi:

  1. Kalender Hijriyah (wikipedia)
  2. Kalender Jawa (wikipedia)

Recent Comments